Rabu, 02 April 2014

sebuah episode keikhlasan dalam hidup...


Cerita dari seorang teman
Sumber : muhajirinanshor.tumbler.com

Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Pengemudi angkot itu seorang anak muda. Didalam angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yg belum terisi. Di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh. Di depan angkot yg kami tumpangi, ada seorang ibu dgn 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Tiap ada angkot yg berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada sopir angkot, lalu angkot itu melaju kembali. Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yg kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?” sopir tentu menjawab “ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang “Tapi saya dan 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, sopir itu menjawab, “Gak pa-pa Bu, naik saja,” ketika si Ibu tampak ragu-ragu, sopir mengulangi perkataannya “Ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..” Saya terpesona dgn kebaikan Supir angkot yg masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang,tapi si sopir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu & anak2nya. Ketika sampai di terminal bis, 4 penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir. Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp20 ribu. Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya & 4 penumpang gratisan tadi. “Terus jadi orang baik ya, Dik,” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu…

Begitu bajak kearifan yang tersebar di muka bumi ini, semoga kita terinspirasi.... 
 

Selasa, 29 Oktober 2013

menemukan tujuan hidup

Mari kita merenung sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah memiliki tujuan hidup yang jelas di dunia ini?. Jika belum maka carilah dan milikilah, jika sudah maka evaluasilah. Dunia ini memberikan jalan bagi manusia yang memiliki tujuan hidup yang jelas.

konon, ada dua alasan yang membawa orang ke San Fransisco, untuk menikmati liburan yang menyenangkan, atau mengakhiri kehidupannya. Dan balerina kaliber dunia pernah datang untuk alasan yang kedua. Ia merasa hidupnya hampa. Segala popularitas dan kekayaannya tidak memberikan kepuasan bagi jiwanya. Dan ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Ia terjun bebas dari atas golden gate, dan bermaksud membiarkan dirinya hanyut ke laut menyongsong ajal. Seorang pemuda lugu yang melihat kejadian itu langsung ikut melompat untuk menolong sibalerina dari perbuatan bodohnya. sayang, sipemuda lupa bahwa dia tidak bisa berenang. Si Balerina yang ingin mati yang melihat seorang pemuda yang berjuang untuk tetap hidup, dan kebetulan mahir berenang, segera merubah keputusannya dan berusaha menolong pemuda itu dan berhasil di selamatkan.
Dalam kesaksiannya yang dimuat di pers waktu itu, si balerina sangat berterima kasih kepada sipemuda yang diselamatkannya. si balerina berkata, " saya putus asa karena kehilangan tujuan hidup, pemuda itu dengan tindakannya menolong saya untuk menemukan kembali tujuan hidup saya, mulai sekarang saya akan mengabdikan diri untuk dapat membantu orang-orang yang membutuhkan." ujarnya.

Tujuan hidup adalah tempat dimana kita menemukan kebahagiaan dan menemukan rasa lapar dunia yang mendalam. Oleh karena itu alangkah bijaknya jika kita memiliki mimpi, maka segera tetapkan menjadi tujuan hidup. Dan yang terpenting adalah dengan adanya tujuan hidup, maka kita tak akan pernah kehilangan harapan. Karena hidup adalah harapan, harapan untuk bisa menjadi manusia yang seutuhnya, manusia yang bisa merasakan bahagianya hidup di dunia dan bisa mengantarkan kebahagiaan akhirat. Semoga Allah SWT berkenan memberikan jalan kehidupan yang jelas yang tentunya diiringi dengan Ridho-Nya. Amiin

Senin, 09 September 2013

belajar bijak dari sang guru bijak


Beliau bukan Nabi tetapi namanya terukir dalam Al-Qur'an, dialah Lukmanul Hakim seorang yang bersahaja dalam hidupnya. Seorang yang dikenal bijak dalam menasehati anaknya. Tak ada salahnya kita belajar bijak dari beliau :

 Dalam suatu kesempatan, Lukmanul Hakim mengajak anaknya berjalan ke pasar. Beliau mengenderai seekor keledai sementara anaknya berjalan kaki menuntun keledai tersebut. Ketika melewati suatu tempat, ia mendengar pembicaraan orang: “Lihat orang tua itu, benar-benar tidak memiliki rasa kasih sayang, anaknya yang kecil dibiarkan berjalan kaki sedangkan dia bersenang-senang menunggang keledai.”
“Wahai anakku, dengarkah engkau apa yang mereka perkatakan itu?” tanya Lukmanul Hakim kepada anaknya. “Dengar ayah,” jawab anaknya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sekarang engkau naiklah ke atas keledai ini, biar ayah yang menuntunnya,” katanya sambil mengangkat anaknya ke atas keledai, lalu mereka meneruskan perjalanan.
Tidak berapa lama kemudian ketika melewati sekelompok orang, “Lihatlah betapa anak yang tidak pandai mengenang budi ayahnya yang sudah tua, disuruhnya ayahnya menuntun keledai sedangkan dia yang masih muda menunggangnya, sungguh tidak patut,” kata orang-orang tersebut.

“Dengarkah engkau apa yang mereka perkatakan?” tanya Lukmanul Hakim kepada anaknya. Anaknya mengiyakan pertanyaannya itu. “Sekarang engkau turun dari keledai ini dan kita sama-sama berjalan kaki,” kata Lukmanul Hakim. Anaknya segera turun dari keldai lalu berjalan bersama beriringan dengan ayahnya menuntun keledai.

Sejurus kemudian mereka bertemu pula dengan sekelompok orang lain. “Alangkah bodohnya orang yang menarik keldai itu. Keledai untuk dikenderai dan dibebani dengan barang-barang, bukan untuk dituntun seperti lembu dan kambing,” kata mereka.

“Dengarkah engkau apa kata mereka?” tanya Lukmanul Hakim kepada anaknya lagi. “Dengar, ayah,” jawab anaknya. Lukmanul Hakim berkata: “Kalau begitu marilah kita berdua naik ke atas punggung keledai ini.”

Tidak berapa lama setelah itu mereka mendengar sekelompok orang yang lain yang mereka lewati “Sungguh tidak bertimbang rasa mereka ini, keledai yang kecil ditunggangi berdua!” kata mereka.

Lukmanul Hakim lalu bertanya kepada anaknya, “Apakah engkau dengar apa yang mereka katakan?” Jawab anaknya: “Ya ayah, saya dengar.” “Kalau begitu marilah kita pikul keledai ini,” kata Lukmanul Hakim.

Dengan bersusah payah mengikat keempat-empat kakinya, akhirnya mereka mampu mengangkat keledai itu. Dan dalam keadaan demikian itu mereka mulai berjalan dengan beban memikul seekor keldai.

Ketika sejumlah orang melihat mereka berdua memikul seekor keldai, mereka ketawa terbahak-bahak. “Ha! Ha! Ha! Lihatlah orang gila memikul keledai!

“Dengarkah engkau apa yang mereka katakan?” dia bertanya kepada anaknya lagi. “Dengar ayah,” jawab anaknya. Mereka lalu meletakkan keldai itu ke tanah.

Lukmanul Hakim pun kemudian menjelaskan hikmah di sebalik peristiwa tadi: “Anakku, begitulah sifat manusia. WALAU APAPUN YANG ENGKAU LAKUKAN, ENGKAU TAK AKAN TERLEPAS DARI PERHATIAN DAN PANDANGAN MEREKA. Tidak menjadi soal apakah tanggapan dan sikap mereka benar atau salah, mereka tetap akan mengatakannya.”

Ingatlah anakku BILA ENGKAU TELAH BERTEMU KEBENARAN, JANGANLAH ENGKAU BERUBAH HATI HANYA KERANA MENDENGAR KATA-KATA ORANG LAIN. YAKINLAH PADA DIRI SENDIRI DAN GANTUNGKAN HARAPANMU KEPADA ALLAH.”

semoga kita semua termasuk orang-orang yang peduli akan sesutu nasihat yang baik lagi bijak. Semoga bermanfaat.....

Kamis, 29 Agustus 2013

menyikapi usaha kita

Hidup adalah serangkaian kewajiban dan  tugas yang harus kita jalani dan selesaikan.  Apa yang kita lakukan hari ini adalah sebuah aktivitas yang menuntut pengorbanan. Pengorbanan waktu, tenaga dan biaya adalah sesuatu yang pasti kita keluarkan. Alangkah bijaknya jika kita merencanakan dengan baik semua agenda yang harus kita lakukan. Kita memang berhak untuk berencana, tetapi mengenai hasil Allah SWT lah yang berhak menentukan.Berpikir positif lah selalu dalam melakukan aktivitas, dan sambutlah dengan senyum apapun rintangan dan masalah yang menghadang kita.

Di sebuah desa, seorang nenek yang hidup sendiri mengambil air dari sungai ke tempat tinggalnya yang berjarak kurang lebih 1 km. Air dipergunakan untuk hidupnya sehari-hari. Wadah yang dipergunakan untuk mengambil air itu adalah satu buah ember yang berukuran sedang, tetapi sayang ember yang dipergunakannya bocor sehingga setiap kali dia sampai di rumahnya hanya sepertiga isi ember yang di dapat.
Sang nenek tetap semangat, karena hanya itulah alat yang ia punya untuk mengangkut air. Untuk mengisi wadah agar penuh di rumahnya dibutuhkan minimal 10 kali perjalanan ke sungai setiap harinya.
Sampai suatu saat ketika ia sedang istirahat di rumahnya datanglah seorang yang memberinya uang. Sang nenek kaget, dan bertanya kepada orang tersebut, "kenapa kamu memberi saya uang ini?". Orang itu menjawab, "saya adalah pemilik tanah yang ibu lewati setiap kali mengambil air di sungai". "Tanah itu saya tanami berbagai macam tanaman dan tumbuhan serta bunga-bunga". "dan saya tahu setiap hari ibu menyirami tanah dengan ember bocor yang ibu bawa, sehingga tanaman dan bunga-bunga tumbuh subur"."hasil dari itu semua saya jual dan ibu layak mendapatkan ini semua". Sang nenek pun tersenyum, mengucapkan terima kasih dan bersyukur kepada sang Pencipta.

Untuk itu, kita harus terus berusaha dan bekerja dengan sikap maskulin. Sikap maskulin berarti kita harus semangat, pantang menyerah dan disertai dengan target yang super hebat. Tetapi untuk hasil kita harus memiliki sikap feminim, yaitu rendah hati dan ikhlas apapun yang kita dapatkan.Karena segala sesuatunya telah di tetapkan oleh Allah SWT. Semoga kita adalah orang-orang yang selalu optimis dan yakin bahwa ketika kita memberikan sesuatu yang terbaik, maka akan ada saat kita akan mendapatkan yang terbaik pula. semoga...

Selasa, 27 Agustus 2013

bersabar dan bersyukur

Hidup di dunia ini adalah anugerah yang terindah yang wajib disyukuri oleh kita semua. Bersyukur, karena kita masih diberikan kesempatan untuk berkarya. Memang, ada diantara kita yang merasa kekurangan dalam satu hal, tetapi bukan menjadi alasan bagi kita untuk berdiam dan merasa minder ataupun sedih. Nikmatilah hidup ini, karena sepatutnya lah kita selalu bersyukur.

Dalam suatu kesempatan sang malaikat bertanya kepada seekor kerbau,"apakah engkau merasa sedih diciptakan menjadi seekor kerbau yang hidup dan mandi di air yang kotor?. Sang kerbau dengan santai menjawab, "Aku sepertinya lebih baik dari kelalawar yang hidupnya bermandikan air seninya sendiri karena hidup bergelantungan dengan badan terbalik".
Mendengar jawaban tersebut sang malaikat penasaran dan segera menuju ke gua tempat dimana kelalawar tinggal. Setelah bertemu kelalawar, dan bertanya apakah kelalawar merasa sedih hidup dengan bermandikan air seninya sendiri?. Sang kelalawar lalu menjawab, "Aku bersyukur, karena aku lebih baik dari cacing yang hidupnya didalam tanah dan kotoran setiap harinya.
Kemudian sang malaikat segera menghampiri seekor cacing dan menanyakan hal yang sama seperti halnya kerbau dan kelalawar. Seekor cacingpun menjawab, "Aku bersyukur dicipatakan sebagai cacing, karena aku lebih baik dari manusia yang hidupnya tidak sabar dan jarang sekali bersyukur."
Mendengar jawaban tersebut sang malaikat lalu termenung......

Kita diciptakan oleh Allah SWT, dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Itu adalah modal kita untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki. Jikalau akhirnya kita terpuruk atau mengalami kegagalan, maka jangan bersedih karena itu adalah langkah awal kita untuk bangkit dan memperoleh apa yang kita cita-citakan. Oleh karena itu alangkah baiknya kita bersabar. Bersabar bukan berarti diam menunggu, tetapi bersabar adalah dengan tetap melakukan aktivitas agar kita menjadi manusia yang berkualitas.

Selasa, 21 Mei 2013

bukan sekedar orang tua

Ada saat dimana kita akan bermain peran menjadi orang tua dalam kehidupan ini. Mempunyai anak dan berkewajiban menafkahi dan mendidiknya. Sebagai manusia bijak, tentunya kita tidak hanya sekedar menjadi orang tua, tetapi lebih dari itu kita harus menjadi orang tua yang visioner dan berani mengambil tanggung jawab untuk masa depan anak cucu kita.

Suatu hari, seorang anak berusia 4 tahun yang setengah tuli, pulang sekolah dengan membawa sepucuk surat dari gurunya. "Tommy anda terlalu bodoh, kami tak sanggup lagi mendidiknya. Kami harap Bapak/Ibu memindahkan dia dari sekolah ini", demikian isi surat itu.
Ibu Tommy membaca surat itu, kemudian membalas dan mengirimkan kembali surat ke guru Tommy. Isi suratnya adalah,"Tommy anak  saya tidak bodoh, saya akan mengajarinya sendiri."
Di kemudian hari, anak bodoh dan tuli itu dikenal sebagai salah satu ilmuwan dan penemu terbesar di dunia. Namanya adalah, Thomas Alva Edison.

Begitu indah kiranya menjadi orang tua yang kreatif seperti cerita di atas. Dengan sikap yang tepat, kita bisa mengubah takdir menjadi baik. Menjadi orang tua adalah amanah, yang menuntut keseriusan kita untuk dapat mempertanggungjawabkan dikemudian hari kelak. Menjadi orang tua akan membuat kita selalu berpikir ke depan untuk masa depan yang lebih baik. Untuk itulah kita nantinya bukan hanya sekedar menjadi orang tua, tetapi menghasilkan generasi yang unggul untuk memimpin masa depan. Semoga

Kamis, 04 April 2013

filosopi kehidupan

Tak terasa waktu terus berjalan pelan tapi pasti. Kita masih diberikan berbagai macam kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita. Kita masih diberi kesempatan untuk hidup dan menjalani kehidupan. Kehidupan yang bagi sebagian orang mempunyai makna yang positif dan sebagian lagi bisa jadi memaknainya dengan sikap negatif. Bisa jadi kita sekarang sudah menjalani separuh dari efisode kehidupan yang kita alami.

Pada suatu hari yang cerah di sebuah taman bunga, sang kodok sedang merenungi tentang makna sebuah kehidupan...dan mempertanyakan,"apakah hidup itu?"
Semua hewan dan tumbuhan yang berada di taman itu terperanggah  dengan pertanyaan sang kodok tersebut.
"Hidup adalah menjadi sesuatu." sekuntum mawar yang baru mekar dari kuncupnya berkata sambil membuka kelopaknya satu persatu menyambut mentari.
Sang kupu-kupu menjawab dengan santai,"hidup itu, hanya semata-mata kenikmatan dan hangatnya sinar matahari." katanya sambil terbang dari bunga yang satu ke bunga yang lain.
Semut, yang berada di tanah menanggapi pernyataan kupu-kupu, "Hidup tak lebih dari kerja keras tanpa henti, keringat, dan menahan diri".
"Hidup itu hanya air mata dan tak lebih dari air mata", kata rerumputan hijau yang masih digenangi air embun.
Begitulah, banyak lagi jawaban-jawaban dari binatang dan tumbuhan yang lain. Sang kodokpun kembali merenung untuk sekedar menyimpulkan jawaban-jawaban tentang makna kehidupan.

Makna kehidupan sangat bergantung persepsi masing-masing manusia yang menanggapi kehidupannya sendiri. Bisa jadi, jika kita mensurvei tentang makna kehidupan banyak jawaban yang berbeda satu sama lain. Sebagai manusia, kita harus bertindak bijak dalam memaknai kehidupan ini.  Ada kekuatan yang mengatur, yaitu Allah SWT. Dalam Firmannya, "Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku". Jadi tak ada yang lain dalam memaknai kehidupan kita ini, apapun yang kita lakukan, orientasinya adalah semata-mata dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Selamat datang pemenang...